Home - Photo - Blogger

Subscribe: Posts Subscribe to Revolution ChurchComments

40 Jiwa masih terjebak di Palopo

PALOPO, Sulsel: Sekitar 40 warga dari RW 3, Kelurahan Battang Barat, Kecamatan Wara Barat masih terisolir oleh sisa tanah longsor sampai tiga hari pasca longsor di Kota Palopo, Sulsel. Hal ini dikemukakan Camat Wara Barat Idris Kaso di Palopo, kemarin siang. Menurut dia, warga tersebut tidak dapat keluar­ dan dievakuasi dengan cepat karena akses jalan keluar terputus akibat masih ada ribuan kubik tanah menutupi.

Pemkot tata kampung nelayan

MANADO: Pemkot Manado akan menata ruang baru di kawasan pesisir untuk dijadikan kawasan perkampungan nelayan. “Kawasan pesisir yang sebagian besar berada­ di utara akan direvitalisasi supaya selain menjadi permukiman, juga menjadi pendukung pariwisata sebab diatur sebagai kawasan pengembangan nelayan,” kata Kepala Bappeda Manado Revin Lewan, kemarin. Lewan mengatakan kawasan dimaksud mencakup Bailang di Kecamatan Bunaken, serta Karangria di Kecamatan Tuminting.

Rumput laut Seram 135 ton

AMBON: Lima kelompok nelayan yang membudidayakan rumput laut di Desa Wael, Kabupaten Seram Bagian Barat, setiap tahun mampu menghasilkan 135 ton. “Hasil panen saya rata-rata 1,8 ton per tahun­ sejak Mei 2007. Tapi kalau digabungkan dengan empat kelompok nelayan lain, jumlahnya­ cukup besar,” kata Ketua Kelompok Budidaya Rumput Laut Sukamaju La Idris M. Thalib, kemarin. Lima kelompok nelayan yang mengembang­kan­ rumput laut itu masing-masing ber­anggota 15 orang.
Tampilkan postingan dengan label laporan kontributor ambon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laporan kontributor ambon. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 24, 2009

China jajaki pabrik biofuel di Maluku

AMBON: Investor asal China bekerjasama dengan sebuah perusahaan swasta di Jakarta menjajaki pengembangan biofuel yang bersumber dari buah jarak di Kec. Bula, Kab. Seram Bagian Timur (SBT). Kepala Bidang Promosi Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Maluku, S. Kilkoda, mengatakan, rencana investasi jatrova ini sudah mendapat persetujuan dari Bupati SBT, Abdullah Vanath.

“Rencana lahan yang akan dimanfaatkan untuk pengembangan biofuel ini mencapai luas 60.000 hektare,” kata Kilkoda kepada wartawan di Ambon, kemarin. Proyek tersebut diharapkan segera direalisasikan pada tahun ini, mengingat potensi lahan sudah tersedia dan izinnya sudah diberikan oleh pemerintah daerah setempat.

Menurut dia lokasi yang dipersiapkan Pemkab SBT ini merupakan lahan marginal atau lahan tidak produktif, yang nantinya digunakan untuk mengembangkan tanaman jarak sebagai bahan baku pembuatan biofuel dan untuk pengembangan tanaman kelapa sawit. Selain pengembangan tanaman jarak dan tanaman kelapa sawit, lahan tersebut akan digunakan untuk membangun comunity development, seperti pabrik pengolahan dan sarana pendukung lain, di antaranya pembuatan jalan dan membangun sekolah.

Kilkoda mengatakan, bila rencana investasi tersebut berjalan lancar maka dampak positifnya sangat besar dalam membantu pemerintah menekan angka pencari kerja, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggenjot sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kita belum mengetahui secara pasti berapa besar nilai investasi yang akan ditanamkan nanti karena masih dalam taraf penjajakan,” paparnya.

»» read more

Senin, Maret 30, 2009

Ekspressair terbang tanpa izin ke Ambon

AMBON: Pesawat Ekspressair yang melayani rute Ambon – Tual – Saumlaki diduga telah melakukan penerbangan komersil tanpa izin Departemen Perhubungan dan Dinas Perhubungan Maluku. Hal itu diungkapkan Ketua Harian Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Maluku Tenggara MA Mardana.

Dia menyebutkan, armada penerbangan yang menggunakan jenis pesawat Foker Dornier 328 dengan kapasitas 30 seat hanya mengantongi izin flight approval (penerbangan carter/sewa) dan bukan penerbangan komersil. “Kami sudah cek ini ke Departemen Perhubungan dan Dinas Perhubungan Provinsi Maluku. Dephub mengaku, maskapai yang disewa PT Limbunan Tour and Travel yang berpusat di Makassar ini tidak memiliki izin komersil. Sementara, Dishub Maluku tidak mengetahui adanya penerbangan komersil yang dilakukan Ekspressair,” ungkap Mardana di Ambon, pekan lalu.

Menurutnya, maskapai ini telah melakukan penerbangan komersil sejak 17 Maret lalu. Bahkan, kata Mardana, armada penerbangan ini rutin melayani penumpang pada hari Senin, Rabu dan Jumat setiap pekan. Mardana mengatakan, pelayanan jasa penerbangan yang tidak sesuai izin yang dilakukan armada Ekspressair tersebut, sangat membahayakan jasa pengguna pesawat udara di Kabupaten Maluku Tenggara dan Maluku Tengara Barat.

“Itu kan pesawat carter. Bila terjadi kecelakaan, maka penumpang tidak diberi asuransi, tapi hanya kepada perusahaan yang mencarter. Sebab, izin yang dikantongi adalah izin carter, bukan izin komersil,” tandasnya. Untuk itu, kata Mardana, Hipmi mendesak agar Dephub dan Pemprov Maluku, segera mengeluarkan larangan terhadap maskapai ini, untuk tidak melakukan penerbangan komersil.

“Dephub harus menjatuhkan sanksi. Kemudian Pemprov Maluku harus mendesak untuk penerbangan komersil tanpa izin ini dihentikan,” ujar Mardana. Informasi lain yang diterima Bisnis, menyebutkan selain keberatan dari Hipmi, armada penerbangan lain yang selama ini melayani rute Ambon – Tual – Saumlaki merasa keberatan dengan praktek penerbangan yang tidak sesuai izin ini.

Perkuat rute KTI

Sementara itu, maskapai penerbangan Sriwijaya Air, pada tahun 2009 memantapkan segmentasi pasarnya ke Kawasan Indonesia Indonesia Timur (KTI) dengan membuka rute baru Surabaya-Manado yang ditargetkan akan mencapai tingkat keterisian kursi penumpangnya sebesar 85 persen dari total 167 kursi.

“Kami yakin, penerbangan perdana yang dilakukan saat ini akan mencapai target `load factor`. Selanjutnya, sampai akhir semester pertama tahun ini diharapkan angkanya naik menjadi 90%,” kata Direktur Komersial Sriwijaya Air, Toto Nursatyo, Menurut dia pasar di Timur sangat luas sehingga menjadi bidikan sejumlah operator penerbangan. Apalagi, dilihat dari besarnya pasar dari kalangan bisnis dan pemerintah daerah.

“Untuk meningkatkan jumlah penumpang di KTI, kami mulai membuka rute penerbangan terbaru yakni Surabaya-Menado,” ujarnya. Frekuensi terbangnya akan dibuka setiap hari dengan mengoperasikan pesawat jenis Boeing 737-400 berkapasitas 167 penumpang. Sedangkan jadwal penerbangan rute Surabaya-Manado ini, berangkat dari Surabaya pukul 07.50 WIB, tiba di Manado pukul 11.20 WITA.

Saat kembali ke Surabaya, keberangkatan dari Menado pukul 11.50 WITA dan tiba di Surabaya pukul 13.25 WIB. “Pembukaan rute ke-35 di pasar di KTI, sekaligus mengoptimalkan rute di wilayah Timur yang sudah ada sebelumnya semisal Jakarta-Ujung Pandang-Gorontalo, Jakarta-Ujung Pandang-Ambon, Jakarta-Ujung Pandang-Kendari, dan Jakarta-Surabaya-Kupang,” katanya.

Selain rute tersebut, ke depan pihaknya juga membuka rute penerbangan Surabaya-Makassar-Ternate, Jakarta-Yogyakarta, dan Surabaya-Yogyakarta. Banyaknya rute penerbangan di KTI, kata dia, mendorong pertumbuhan penumpang Sriwijaya di wilayah tersebut akan mencapai target tahun ini antara 10-15%..

»» read more

Kamis, Maret 19, 2009

Speedy rambah pasar Maluku

AMBON: Speedy, salah satu produk PT Telkom Tbk untuk jasa internet di Indonesia, mulai merambah pelanggan di Maluku sejak memasuki daerah tersebut pada awal Februari 2009. General Manager Telkom Maluku Jusran Holle menuturkan dalam sebulan sejak kehadiran Speedy, permintaan pelanggan terhadap produk ini terus meningkat. “Dalam waktu relatif singkat, hanya dalam jangka sebulan sudah sekitar 500 pelanggan telepon rumah yang menggunakan internet Speedy. Dalam sehari kami bisa melayani 10 hingga 15 langganan baru,” tandasnya di Ambon, kemarin.

Dia menambahkan tahun ini pihaknya menargetkan penjualan layanan internet Speedy dengan pangsa pasar terbesar di wilayah Ambon, Saparua, Masohi dan Tual. Sementara untuk wilayah lainnya, seperti Banda, Larat dan Saumlaki, tengah dijajaki penetrasi pasarnya. Menurutnya, layanan Speedy di Maluku masih menggunakan akses dengan menggunakan kabel telepon rumah. Sedang akses non kabel, lanjutnya, sementara masih diupayakan karena produk tersebut masih baru di Maluku.

“Speedy bisa diakses mengikuti wilayah pemasangan sambungan telepon kabel rumahan dan area jangkauan pemancar sinyal telepon tanpa kabel,” ujarnya. Kata Holle, animo masyarakat yang tinggi terhadap Speedy karena kenyamanan yang ditawarkan dari sisi biaya dan kecepatan akses.


Holle menyebutkan pelanggan telepon di Maluku sudah berada di kisaran 31.000 sambungan dan 10.000 sambungan di antaranya sudah mengakses layanan Telkomnet Instant. Namun, menurutnya, antara Speedy dan Telkomnet Instant memiliki pangsa pasar masing-masing.


“Memang ada pelanggan Telkomnet Instant yang pindah menggunakan Speedy, tetapi sebagian besar pasarnya masih tetap. Saya kira pasarnya tidak akan terganggu, karena kedua produk ini memiliki brand dan pelanggan masing-masing,” tuturnya. Holle mengungkapkan dari lima paket, sebanyak 80% pelanggan memilih Speedy time based dan personal. Dua paket itu untuk penggunaan di bawah 50 jam sebulan.

»» read more

Rabu, Maret 11, 2009

Ambon kembangkan kawasan bisnis Passo

AMBON: Kawasan Passo di Kota Ambon, Maluku, akan dipacu menjadi sentra ekonomi baru yang menghubungkan daerah lingkar luar sebagai pendukung pertumbuhan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Ambon Syarif Tuasikal mengatakan wilayah Passo akan dijadikan kawasan bisnis setelah pusat kota Ambon, yang selama ini berkembang dari Batumerah hingga ke Benteng.

“Passo sedang kami kembangkan menjadi kawasan sentra ekonomi baru, yang bisa menampung aktivitas perekonomian lintas kota/kabupaten,” ujar Syarif di Ambon, kemarin. Menurutnya, Passo merupakan pintu masuk dari daerah lain ke Ambon, sehingga pemanfaatannya bisa menopang keberadaan pusat kota karena lahan semakin sempit akibat pertumbuhan penduduk dan berbagai aktivitas di dalamnya.

“Nantinya mereka dari kabupaten lain bisa berbelanja di Passo karena sudah menjadi kawasan bisnis,” tandasnya.Pemkot, kata Syarif, telah menyediakan lahan 11 hektare untuk pengembangan lokasi kawasan bisnis tersebut, dengan langkah awal membangun terminal transit dan pasar tradisional.

Pasar tradisional, tambahnya, dibangun dengan bantuan dana dari Departemen Koperasi dan UKM melalui Dinas Koperasi dan UKM sebesar Rp5 miliar. Sedangkan terminal transit yang dibiayai APBD dan APBN menelan anggaran sekitar Rp63 miliar. Infrastruktur seperti jalan masuk terminal dan jalan lingkar barat sedang dirampungkan dengan biaya Rp20 miliar.

Syarif menjelaskan, luas Kota Ambon adalah 3/5 atau 377 km dari luas Pulau Ambon, sedangkan 2/5 Pulau Ambon masuk Kabupaten Maluku Tengah. Kota berpenduduk 270.000 jiwa itu semakin sempit karena telah berkembang sebagai pusat bisnis, jasa, pemerintahan, dan pendidikan.

Apalagi tambahnya, sesuai tata ruang yang lama lahan yang bisa dikembangkan sebagai ruang publik seperti bisnis dan pemerintahan di Kota Ambon hanya sekitar 15%, karena sebagian besar berupa perbukitan dan laut.

“Paska konflik tata ruang wilayah mengalami pergeseran peruntukan, karena terjadi alih fungsi ruang wilayah permukiman yang mulai merambah kawasan konservasi air di perbukitan,” sebutnya. Di lain pihak, pasar-pasar yang telah dibangun tidak bisa menampung pedagang yang semakin banyak beraktivitas paska konflik.

Hal ini karena ruang untuk pasar mulai melebar dengan pembukaan pasar dadakan.Karena itu, lanjut Syarif, kawasan bisnis Passo bisa menjadi solusi menata kembali tata ruang wilayah di Ambon sesuai peruntukan. Hal ini akan memudahkan mengembangkan setiap kawasan dengan ciri khas dan karakteristiknya masing-masing.

»» read more

Selasa, Maret 10, 2009

Ambon kembangkan kawasan bisnis Passo

AMBON: Kawasan Passo di Kota Ambon, Maluku, akan dipacu menjadi sentra ekonomi baru yang menghubungkan daerah lingkar luar sebagai pendukung pertumbuhan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Ambon Syarif Tuasikal mengatakan wilayah Passo akan dijadikan kawasan bisnis setelah pusat kota Ambon, yang selama ini berkembang dari Batumerah hingga ke Benteng.

“Passo sedang kami kembangkan menjadi kawasan sentra ekonomi baru, yang bisa menampung aktivitas perekonomian lintas kota/kabupaten,” ujar Syarif di Ambon, kemarin. Menurutnya, Passo merupakan pintu masuk dari daerah lain ke Ambon, sehingga pemanfaatannya bisa menopang keberadaan pusat kota karena lahan semakin sempit akibat pertumbuhan penduduk dan berbagai aktivitas di dalamnya.

“Nantinya mereka dari kabupaten lain bisa berbelanja di Passo karena sudah menjadi kawasan bisnis,” tandasnya.Pemkot, kata Syarif, telah menyediakan lahan 11 hektare untuk pengembangan lokasi kawasan bisnis tersebut, dengan langkah awal membangun terminal transit dan pasar tradisional.

Pasar tradisional, tambahnya, dibangun dengan bantuan dana dari Departemen Koperasi dan UKM melalui Dinas Koperasi dan UKM sebesar Rp5 miliar. Sedangkan terminal transit yang dibiayai APBD dan APBN menelan anggaran sekitar Rp63 miliar. Infrastruktur seperti jalan masuk terminal dan jalan lingkar barat sedang dirampungkan dengan biaya Rp20 miliar.

Syarif menjelaskan, luas Kota Ambon adalah 3/5 atau 377 km dari luas Pulau Ambon, sedangkan 2/5 Pulau Ambon masuk Kabupaten Maluku Tengah. Kota berpenduduk 270.000 jiwa itu semakin sempit karena telah berkembang sebagai pusat bisnis, jasa, pemerintahan, dan pendidikan.

Apalagi tambahnya, sesuai tata ruang yang lama lahan yang bisa dikembangkan sebagai ruang publik seperti bisnis dan pemerintahan di Kota Ambon hanya sekitar 15%, karena sebagian besar berupa perbukitan dan laut.

“Paska konflik tata ruang wilayah mengalami pergeseran peruntukan, karena terjadi alih fungsi ruang wilayah permukiman yang mulai merambah kawasan konservasi air di perbukitan,” sebutnya. Di lain pihak, pasar-pasar yang telah dibangun tidak bisa menampung pedagang yang semakin banyak beraktivitas paska konflik.

Hal ini karena ruang untuk pasar mulai melebar dengan pembukaan pasar dadakan.Karena itu, lanjut Syarif, kawasan bisnis Passo bisa menjadi solusi menata kembali tata ruang wilayah di Ambon sesuai peruntukan. Hal ini akan memudahkan mengembangkan setiap kawasan dengan ciri khas dan karakteristiknya masing-masing.

»» read more